Jumat, 22 Oktober 2010

Apakah Sabun itu?

Sabun yang biasa kita gunakan biasanya berupa batangan atau cairan. Tapi apakah sebenarnya yang terkandung dalam sabun? Dan bagaimanakah strukturnya? Sabun merupakan garam alkali dari suatu asam lemak seperti Produk sabun yang diproduksi di pabrik-pabrik biasanya berwujud batangan, cair atau serbuk. Berdasarkan penggunaannya sabun dapat digolongkan menjadi tiga jenis.
a. Laundry Soap
Sabun yang tergolong jenis ini adalah sabun yang biasa digunakan untuk mencuci. Contohnya adalah sabun cuci piring, cuci baju, dsb.
b. Toilet Soap
Sabun yang tergolong jenis ini adalah sabun yang biasa digunakan di toilet untuk mandi dan perawatan kulit. Contohnya sabun mandi batangan maupun cair.
c. Tekstil Soap
Sabun yang tergolong jenis ini adalah sabun yang biasa digunakan pada proses-proses

pembersihan di pabrik tekstil seperti proses scouring textile, degumming sutera, dll.
Sabun dihasilkan dari reaksi minyak atau lemak dengan basa (seperti NaOH atau KOH) pada suhu 80 – 100 oC dimana reaksinya biasa disebut reaksi saponifikasi. Lemak akan terhidrolisis oleh basa sehingga membentuk gliserol dan sabun mentah. Alkali yang digunakan dapat dihasilkan secara tradisional dari pembakaran tumbuhan atau arang kayu.
Struktur sabun secara umum ditunjukkan pada gambar di bawah ini:

Gambar struktur sabun
Berdasarkan struktur di atas dapat dilihat bahwa sabun memiliki dua gugus fungsi yang berbeda secara karakternya. Terdapat gugus karboksilat yang bersifat polar dan juga rantai karbon yang bersifat non polar. Pada penjelasan selanjutnya kita akan mengetahui manfaat keberadaan kedua gugus ini di dalam sabun.
Reaksi pembentukan sabun dan struktur sabun yang dihasilkan ditunjukkan pada reaksi di bawah ini:
Gambar reaksi pembentukan sabun
Berdasarkan reaksi di atas dapat dilihat bahwa reaksi saponifikasi menghasilkan hasil samping berupa gliserol atau gliserin. Oleh karena itu perlu dilakukan proses pemisahan untuk mendapatkan produk sabun. Selanjutnya gliserin akan diolah menjadi makanan, obat-obatan dan kosmetik.
Pada awalnya proses saponifikasi dilakukan dengan cara pemasakan secara tidak berkesinambungan. Tetapi setelah perang dunia II prosesnya dilakukan secara kontinu karena selain lebih fleksibel, juga lebih cepat dan ekonomis.
Lemak yang digunakan pada proses saponifikasi dapat berupa lemah hewani maupun nabati. Sedangkan basa yang digunakan biasanya basa-basa golongan alkali. Basa yang biasa digunakan adalah NaOH atau abu soda dan KOH. Apabila basa yang digunakan NaOH, biasanya sabun yang dihasilkan akan lebih keras dibandingkan dengan menggunakan KOH. Istilah keras di sini bukan menunjukkan kekerasan secara fisik dari sabunnya.
Selain melalui proses saponifikasi, pembuatan sabun juga dapat melalui reaksi netralisasi asam lemak. Berikut ini reaksi netralisasi asam lemak:
Gambar reaksi netralisasi asam lemak
Pada proses ini tidak dihasilkan gliserin tetapi hanya dihasilkan air sebagai produk samping sehingga kita dapat langsung mendapatkan produk sabun. Tetapi reaksi pembuatan sabun dengan reaksi ini masih kurang populer dibandingkan dengan reaksi saponifikasi.
Kedua proses pembuatan sabun di atas menghasilkan sabun yang masih mentah berupa cairan panas atau biasa disebut neat soap. Lalu neat soap ini dikeringkan di unit pengering sampai mencapai bentuk pelet (butiran padat) dimana kendungan air di dalamnya dapat diatur sesuai kebutuhan dan kegunaan.
Setelah itu butiran dicampur di dalam mixer dengan bahan tambahan lainnya seperti pewarna, pewangi, pelembut, dll. Campuran tersebut kemudian dipress dengan sebuah alat sehingga dihasilkan sabun batangan yang kemudian dipotong dengan mesin pemotong. Setelah itu potongan-potongan sabun batangan tersebut masuk ke mesin percetakan untuk dicetak sesuai bentuk yang diinginkan, dan selanjutnya dibungkus. Proses tersebut biasanya dilakukan untuk sabun jenis toilet soap. Namun untuk jenis laundy soap lebih singkat karena hanya sampai mesin pemotongan dimana alat pemotongnya dilengkapi dengan cetakan untuk membuat brand sabun dan akhirnya dibungkus.

1 komentar: